Rabu, 16 Maret 2011

Gain Scor dan Perlakuan Khusus dalam Pembelajaran


GAINSCOR
bagi manusia belajar sudah menjadi bagian dalam hidup proses yang kebutuhan manusia sejak lahir. Mulai dari proses perkembangan manusia dari janin bayi yang ada di dalam kandungan hingga sampai bayi di lahirkan. Pada masa bayi di dalam kandungan maka interaksi bentuk belajar yang dapat dilakukan hanya melalui pendengaran saja. bentuk pembelajaran melalui indra lain belum dapat digunakan sampai ia dilahirkan. barulah setelah ia lahir maka pembelajaran baru dapat dilakuakn melalui indra-indra yang lain. Fungsi kulit yang mampu mengetahui keadaan yang ada disekelilingnya.
Mata pelajaran pendidikan jasmani yang diajarkan disekolah merupakan salah satu dari mata pelajaran yang ada di sekolah. Keberadaan dan kedudukan pendidikan jasmani pada dasarnya sama dengan mata pelajaran. Tidak ada mata pelajaran yang dinggap lebih penting sebenarnya, semua kedudukan setara karena masing-masing mata pelajaran memiliki karakteristik
tersendiri dan memiliki ciri kekhususan yang sangat spesifik. jika mata pelajaran matematika, IPA terpadu lebih dominan pada ranah kognitifnya, maka seni dan pendidikan jasmani leih ke ranah afektif dan psikomotornya. lalu akan timul pertanyaan, dimana kedudukan ranah kognitif pada pendidikan jasmani dan seni?
Satu keunikan pada mata pelajaran pendidikan jasmani dan seni tidak akan ditemukan pada mata pelajaran yang lain. Namun dalam pemahasan disini hanya memicarakan pada aspek mata pelajaran pendidikan jasmani saja. untuk menjawab pertanyaan di atas bahwa kedudukan dari ranah kognitif pada mata pelajaran pendidikan jasmani seenarnya sudah melebur menjadi satu ke dalam ranah psikomotor itu sendiri. oleh karenanya jika aspek psikomotor sudah dikuasai oleh peserta didik maka kemampuan dari aspek kognitif sudah pasti akan dikuasia juga. Sebagai contoh seorang siswa tingkat SMP yang sudah terampil bahkan sudah pada tahap otomatisasi dalam melakukan gerakan smash dalam permainan bola volli, jika di tanya bagaimana cara melakukan smash dalam permainan bola volli maka ia akan dengan lancarnya akan menjelaskan, dari teknik gerakan sampai pada timing impack bola di udara semua akan bisa dijelasknan. Namun sebaliknya jika seorang peserta hanya pada tataran kognitif saja jangan belum tentu akan mampu menjelaskan secara lengkap tentang teknik smash dalam permainan ola volli apalagi untuk melakukan gerakan smash.
Oleh karena itu kedudukan dan peran dari pendidikan jasmani di sekolah adalah bagaimana dapat mengembangkan kemampuan bergerak (motor ability)   dengan baik dan benar serta mampu mengembangkan kemampuan neuro muscularnya secara optimal. Namun justru kenyataan dilapangan justru tidak sesuai dengan apa yang diharapkan dari tujuan pendidikan jasmani. Peran dari pedidikan jasmani sendiri terhadap kemajuan peserta didik itu sendiri sudah seberapa besar yang sudah diberikan kepada peserta didik. bahkan pertanyaan yang paling mendasar adalah  kontribusi apa yang sudah diberikan oleh pendidikan jasmani terhadap dunia pendidikan Indonesia sekarang ini?
Jika kita melihat dari pengertian  dari pendidikan asmani menurut SK. Mendikud no.413/U/1987 dikatakan ahwa “ Pendidikan jasmani merupakan bagain integral dari pendidikan keseluruhan yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuscular, intelktual dan emosional melalui aktifitas fisik.[1]    sangatlah jelas ahwa keberadaan dari pendidikan jasmani yang pertama dimasukannya ke dalam sistem pendidikan nasional agar mampu memberikan sumbangan bagi para peserta didik. Tentu saja sumbangan ini mempunyai perbedaan yang sangat mendasar secara hirarkis dalam proses pencapaiannya jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Hanya pada pendidikan jasmani saja yang menggunakan aktifitas fisik sebagai media dalam pencapaian hasil pendidikan.  Sehingga dengan sendirinya melalui aktifitas fisik ini maka dengan sendirinya akan berdampak pada perkembangan organik (organ fisik).  seiring dengan pernyataan dari Arma Adullah dalam buku Perkemangan olahraga terkini dalam kajian para pakar mengatakan bahwa ” kurang lebih para pakar sependapat  bahwa tujuan dari pendidikan jasmani ada lima: 1). Perkembangan organ-organ tubuh. 2). Perkembangan neouro-muscular. 3). Perkembangan mental dan emosinal. 4). ). Perkembangan sosial. 5). Perkembangan intlektual. [2]
jadi jelaslah bahwa dari pendapat di atas di tegaskan bahwa tujuan dari pendidikan jasmani itu adalah bagaimana supaya tubuh peserta didik itu dapat berkembang sebagaimana mestinya. Dengan dimilikinya kemampuan fungsi organik yang maksimal akan memberikan efek yang sangat positif terhadap pencapaian hasil belajar untuk mata pelajaran yang lain, seperti matematik, sains dan lain-lain. bagaimana mungkin peserta didik akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal jika sistem organik para peserta didik tidak mendukung.  Sehingga sangat jelas sekali bahwa ranah dalam pendidikan jasmani itu menekankan pada aspek psikomtor dan afektif. Sedangkan untuk aspek kognitif sudah dengan sendirinya melebur dalam aspek psikomotornya. Dengan demikian sangat jelas dan konkrit kontribusi dari pendidikan jasmani dalam sistem pendidikan di sekolah. sebagaimana diperkuat oleh pernyataan bahwa” Kesegaran jasmani yang meningkat sebagai hasil latihan yang semangat akan menunjang potensi belajar siswa.[3]
Sehingga dapat dikatakan bahwa implikasi dari pendidikan jasmani terhadap dunia pendidikan yang ada di sekolah adalah bagaimana menyiapkan peserta didik dari aspek fisiknya.  Dengan memiliki kemampuan organiknya  yang baik akan dapat menunjang pada proses pemelajaran yang lain. Namun permasalahan yang timbul adalah bagaimana untuk mengukur terhadap pencapaian hasil belajar para peserta didik? Jika kita melihat dari tujuan dari pendidikan jasmani yang pertama adalah peningkatan perkemangan organik. Sehingga untuk mengukur pencapaian hasil belajar para peserta didik adalah dengan merujuk dari tujuan awal pendidikan itu sendiri, bahwa perkembangan dari organiknya sendiri yang pertama yang hendak di capai salah satu dapat diukur dari tingkat kesegaran jasmani. Kita mengetahui bahwa dalam kesegaran jasmani ada beberapa aspek yang dapat diukur atau di nilai; kecepatan, kelincahan, daya tahan, kelentukan, keseimbangan, daya ledak, ketepatan, koordinasi bahkan sampai tinkat obesitas  peserta didik juga dapat dimasukan dalam indikator penilaian dalam pendidikan jasmani.
Pencapaian hasil belajar dalam proses pendidikan  dipengaruhi oleh banyak faktor. Seringkali dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dalam hal ini adalah guru hanya terfokus pada satu aspek tanpa memperhatikan dan memperhitungkan aspek pendukung. Seagai contoh guru hanya terfokus pada metode belajar namun mengesampingkan faktor dari peserta didik. Seringkali dijumpai di lapangan guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran di kelas tidak memandang terhadap latar belakang dari para peserta didik. Sehingga metode dan sarana yang digunakan di sama ratakan kepada seluruh peserta didik. Seorang peserta didik yang memiliki kemampuan cepat dalam menerima materi pelajaran juga menggunakan media dan metode yang sama dengan peserta didik yang mempunyai daya serap yang lamban.
Sebenarnya hal inilah justru yang memuat menjadi kendala agi peserta didik Peserta didik dalam menyerap materi. Materi pelajaran yang dimaksudkan adalah baik materi secara ranah kognitif maupun psikomotornya. Jika kemampuan yang ditinjau dari ranah kognitif maka hubungannnya dengan kecerdasan. Sedangakan kemampuan yang dikaitkan dengan psikomotor maka berhubungan dengan keterampilan gerak. Oleh karena itu setiap guru hendaknya memperhatikan berbagai faktor bawaan yang ada pada diri setiap peserta didik sebagaimana yang dikatakan oleh Dimyati “Siwa sebagai pembelajar di sekolah memiliki kepribadian, pengalaman, dan tujuan. Ia mengetahui perkembangan jiwa, sesuai asas emansipasi diri menuju keutuhan dan kemandirian. [4]
Sangat jelas ahwa dari pernyataan di atas megatakan ahwa setiap  peserta didik memiliki karakteristik yang bereda yang telah memawa pengatahuan dasar yang sudah dimilikinya melalui aktifitas-aktifitas di luar jam pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu seyognya setiap guru memiliki catatan secara priadi dan khusus mengenaai perkemanagan dari setiap peserta didik. Dari dasar catata-catatan inilah yang dijadikan guru sebagai dasar untuk menentukan metode, sarana, dan bagaimana harus mengkondisikan sebuah pembealajaran.  Harus disadari dan dipahami oleh seorang guru bahwa setiap peserta didik itu memiliki tingkat perkembangan dan kemampuan yang berbeda dalam menangkap materi pelajaran. Hal ini sebagai mana yang dikatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi dari tindak belajar dan tindakan mengajar dari sisi guru, tindak belajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dari sisi siswa, hasil belajar merupakan akhirnya  penggal dan puncak hasil belajar. [5].
Suatu proses pembelajaran yang ideal yang dilakukan oleh seorang guru adalah dengan melakukan satu deteksi awal sebagai alat untuk mengetahui perkembangan kegiatan belajar peserta didik. Di samping itu dapat juga untuk mengatahui sejauh mana efektifitas proses mengajar yang telah dilakukan. Dari hasil deteksi inilah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pembanding dan alat kontrol terhadap kemajuan hasil proses pembelajaran di kelas. Sebagaimana kutipan di bawah ini mengatakan bahwa  evaluasi adalah suatu proses perencanaan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (menhers & Lehmann, 1987:5). Evaluasi adalah suatu proses yang disengaja direncnakan untuk emperoleh informasi atau data.[6]
Jadi sangat jelas bahwa keberhasilan proses belajar yang dilakukan oleh peserta didik hanya dapat diketahui dengan melakukan deteksi oleh guru melalui kegiatan penilaian atau evaluasi. Dari data hasil evaluasi inilah bagi seorang guru yang akan dijadikan sebagai dasar/bahan untuk mengamil langkah-langkah tindakan. Kegiatan yang menyangkut penilaian atau evaluasi tidak bersifat sementara atau dilakukan secara mendadak. Melainkan  kegiatan penilaian ini dilaksanakan secara terencana dan kontiyu. Kegiatan penilaian ini juga merupakan bagian dari rencana pembelajaran yang sudah menjadi satu kesatuan dalam program pembelajaran. Sehingga kegiatan penilaian ini secara berkelanjutan  terus tetap dilakukan selama kegiatan proses belajar mengajar.
Sebagaimana yang dikatakan dalam definisi evaluasi “Evaluation....a sysematic  process of determining the extent to wich intrucsional objectivees are achived by pupils”.
Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh sisiwa.
Oleh karena itu guru sebagai seorang pendidik yang dianggab  orang yang   bijaksana tidak akan memandang secara umum atau pukul rata terhadap perkemangan hasil belajar dari setiap peserta didiknya. Pada dasarnya untuk mengatahui hasil belajar dari semua mata pelajaran melalui prosed yang sama yaitu melalui proses penilaian. Oleh karena itu pula tidak luput pula bahwa  dalam pendidikan jasmani terdapat pula prsose penilaiani.  sebagai contoh untuk penilaian dari pendidikan jasmani yang dikaitkan dengan faktor perkembangan organiknya yang dalam hal ini yang menjadi tolok ukur adalah kesegaran jasmani. Sebagai contoh pada tas awal hasil penilaian diawah ini :

DATA TES AWAL KESEGARAN JASMANI ( 3 ASPEK)
No
Nama siswa
Daya tahan
keseimbangan
Kelincahan
1
Deni
12
25
30
2
Rifki
15
30
30
3
Zaki
10
20
25

Setelah diberikan perlakukan dalam proses pembelajaran selama satu bulan, maka dilakukan penilaian kembali  dan  hasilnya sebagai berikut :

DATA TES KEDUA KESEGARAN JASMANI ( 3 ASPEK)
No
Nama siswa
Daya tahan
keseimbangan
Kelincahan
1
Deni
15
30
33
2
Rifki
16
32
34
3
Zaki
15
28
31

Nilai akumulasi :
                             tes awal                       tes akhir
-          Deni    :              67                 -              78     = 11
-          Rifki    :              75                 -              82     = 7
-          Zaki     :              55                 -              74     = 19
Maka hasil dari penilaian akhir terhadap aspek kesegaran jasmani dari ketiga orang yang ada pada tabel bahwa hasil tertinggi adalah Rifki dengan memperoleh nilai 82. Sedangkan yang terendah adalah Zaki memperoleh nilia 74. Namun jika kita menilai proses pembelajaran sebenarnya yang memperoleh nilai hasil belajar yang terbaik justru pada Zaki. Karena penilaian yang berasis pada proses pembelajaran menekankan pada nilai perkembangan dan kemajuan proses belajar (Gainscor ), bukan dilihat dari hasil pencapapaian nilai akhir. Jika dilihat dari hasil perhitungan rentang pencapaian hasil proses belajar  Zaki memperoleh nilai 19 sedangkan Rifki hanya 7. Maka perbedaan yang sangat signifikan sekali, mungkin ini dipengaruhi oleh faktor keseriusan maupun motivasi  belajarnya.




[1] Harsuki, Perkemangan Olahraga Terkini dalam Kajian Para Pakar, ( Rjawali Sport, Jakarta, 2003), h.47
[3] Harsuki, Perkemangan Olahraga Terkini dalam Kajian Para Pakar, Op.cit, h.52
[4] dimyati, beldan midjiono , Belajar dan pembelajaran, (Reineka Cipta, Jakarta, 2006),h. 3
[5] dimyati, beldan midjiono , Belajar dan pembelajaran, (Reineka Cipta, Jakarta, 2006),h. 3
[6] Ngalim Purwanto, Prinsi-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran, (PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2008),h. 3

Tidak ada komentar: